"Senjata Adalah Satu-satu nya Pilihan Kami Untuk Bertahan Hidup"
Jakarta - Di sebuah kamp hutan rahasia di negara bagian Karen, wilayah timur Myanmar, seorang pelatih kebugaran dan warga sipil lainnya berlatih dengan gerilyawan etnis bersenjata untuk melawan balik militer, yang menggulingkan kekuasaan pemerintah sipil pada 1 Februari lalu.
Meringkuk di bawah tenda-tenda darurat di perbukitan terpencil dekat perbatasan Thailand, para anggota baru ini belajar cara memuat senapan dan memasang detonator untuk bom rakitan saat mereka bersiap untuk bertempur melawan tentara.
Reuters memiliki rekaman langka sejumlah pria dan perempuan muda yang menyatakan mereka keluar dari pekerjaan mereka di kota untuk menjadi pejuang gerilya, mengganti kaos bermerek dan baju warna-warni mereka dengan seragam tentara.
Gambar dan video diambil pada bulan September.
Seorang juru bicara pemerintah militer Myanmar tidak menanggapi permintaan komentar tentang kelompok itu dan pasukan pertahanan sipil lainnya di seluruh negeri.
Beberapa anggota baru mengatakan mereka angkat senjata karena demonstrasi massal setelah kudeta gagal menyingkirkan penguasa baru, yang menanggpi demonstrasi dengan kekerasan, menyebabkan ribuan orang meninggal.
"Angkat senjata adalah satu-satunya pilihan bagi kami," kata seorang mantan pelatih kebugaran berusia 34 tahun yang tidak ingin disebutkan namanya, dikutip dari Reuters, Jumat (17/12).
Tato yang memenuhi punggungnya bertuliskan "Freedom to Lead" dan wajah pemimpin sipil Myanmar yang digulingkan, Aung San Suu Kyi. Suu Kyi ditangkap saat kudeta dan dihukum atas dakwaan penghasutan dan melanggar pembatasan infection corona.
Penguasa militer menuai kecaman internasional. Junta mengatakan hukuman terhadap Suu Kyi menunjukkan tidak ada yang berada di atas hukum dan sistem peradilan "tidak memihak".
Pelatihan warga sipil disebut bagian dari program Karen National Union (KNU), salah satu kelompok etnis bersenjata terbesar di negara itu yang menyatakan solidaritas dengan para pengunjuk rasa dan mengizinkan ribuan orang mencari perlindungan di wilayah mereka.
Namun KNU tidak menanggapi permintaan komentar.
Ratusan kelompok pertahanan yang sama tumbuh di seluruh negeri, koalisi pemberontak bersenjata anti-kudeta yang menyebut diri mereka Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF).
Salah satu penyelenggara pelatihan, mantan aktivis mahasiswa, mengatakan ada lebih dari 100 warga sipil muda dalam pelatihan kelompoknya untuk berperang, dengan anggota baru yang datang secara teratur. Reuters tidak dapat secara independen mengkonfirmasi hal ini.
Di malam hari, para calon pejuang ini duduk di sekitar api unggun bermain gitar dan biola - sembari mengenang sisa-sisa kehidupan masa lalu.
Mantan pelatih kebugaran tersebut mengatakan dia takut bertempur dengan militer berkekuatan 300.000 orang.
Tapi, lanjutnya, melawan adalah satu-satunya cara.
"Saya ingin bangga dengan kematian saya karena melindungi rakyat saya," pungkasnya.
Meringkuk di bawah tenda-tenda darurat di perbukitan terpencil dekat perbatasan Thailand, para anggota baru ini belajar cara memuat senapan dan memasang detonator untuk bom rakitan saat mereka bersiap untuk bertempur melawan tentara.
Reuters memiliki rekaman langka sejumlah pria dan perempuan muda yang menyatakan mereka keluar dari pekerjaan mereka di kota untuk menjadi pejuang gerilya, mengganti kaos bermerek dan baju warna-warni mereka dengan seragam tentara.
Gambar dan video diambil pada bulan September.
Seorang juru bicara pemerintah militer Myanmar tidak menanggapi permintaan komentar tentang kelompok itu dan pasukan pertahanan sipil lainnya di seluruh negeri.
Beberapa anggota baru mengatakan mereka angkat senjata karena demonstrasi massal setelah kudeta gagal menyingkirkan penguasa baru, yang menanggpi demonstrasi dengan kekerasan, menyebabkan ribuan orang meninggal.
"Angkat senjata adalah satu-satunya pilihan bagi kami," kata seorang mantan pelatih kebugaran berusia 34 tahun yang tidak ingin disebutkan namanya, dikutip dari Reuters, Jumat (17/12).
Tato yang memenuhi punggungnya bertuliskan "Freedom to Lead" dan wajah pemimpin sipil Myanmar yang digulingkan, Aung San Suu Kyi. Suu Kyi ditangkap saat kudeta dan dihukum atas dakwaan penghasutan dan melanggar pembatasan infection corona.
Penguasa militer menuai kecaman internasional. Junta mengatakan hukuman terhadap Suu Kyi menunjukkan tidak ada yang berada di atas hukum dan sistem peradilan "tidak memihak".
Pelatihan warga sipil disebut bagian dari program Karen National Union (KNU), salah satu kelompok etnis bersenjata terbesar di negara itu yang menyatakan solidaritas dengan para pengunjuk rasa dan mengizinkan ribuan orang mencari perlindungan di wilayah mereka.
Namun KNU tidak menanggapi permintaan komentar.
Ratusan kelompok pertahanan yang sama tumbuh di seluruh negeri, koalisi pemberontak bersenjata anti-kudeta yang menyebut diri mereka Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF).
Salah satu penyelenggara pelatihan, mantan aktivis mahasiswa, mengatakan ada lebih dari 100 warga sipil muda dalam pelatihan kelompoknya untuk berperang, dengan anggota baru yang datang secara teratur. Reuters tidak dapat secara independen mengkonfirmasi hal ini.
Di malam hari, para calon pejuang ini duduk di sekitar api unggun bermain gitar dan biola - sembari mengenang sisa-sisa kehidupan masa lalu.
Mantan pelatih kebugaran tersebut mengatakan dia takut bertempur dengan militer berkekuatan 300.000 orang.
Tapi, lanjutnya, melawan adalah satu-satunya cara.
"Saya ingin bangga dengan kematian saya karena melindungi rakyat saya," pungkasnya.
Komentar
Posting Komentar